Selamat datang di informasi tiada batas!!

welcome in the information world..!! ayo jelajahi ilmu pengetahuanmu mengenai bisnis..!! Bagi yang ingin memulai usaha barunya juga saran mengenai tindak lanjut usahanya yang sudah berjalan.. untuk mencapai kebebasan financial seperti yang diinginkan kita..yeah!!

Sabtu, 23 Juni 2007

Bisnis Mahasiswa


Sepintas masih ingatkah Anda tentang bisnis handphone (telepon genggam), kafe tenda, jual-beli tanah / kayu dan lain-lain. Begitu maraknya sampai menjadi trend di masyarakat kita, terutama mahasiswa. Bagi mereka yang survive, sampai saat ini masih dapat menjalankan bisnisnya; baik dalam kondisi seret ataupun malah untung dan terus berkembang. Tetapi bagi yang tidak, tentunya hanya kerugian atas hilang modal; baik materi dan non-materi mereka tanggung.


Coba Anda perhatikan bahwa bisnis yang berkembang di kalangan mahasiswa, pada umumnya, adalah bisnis musiman. Artinya bila semua orang tertarik pada bisnis tersebut, maka semua orang /mahasiswa (tidak semuanya tentu) menjalankan bisnis ini. Masih ingat ketika Jakarta dihiasi oleh kafe tenda di pinggiran jalan, sampai Anda dapat menemukan di pelosok Jakarta bahkan di perkampungan sekalipun.

Mahasiswa yang digambarkan sebagai pribadi muda, idealis, energik selalu memenuhi hidupnya dengan rasa ingin tahu yang besar. Semuanya digambarkan dengan perspesi idealisnya. Itulah sebabnya mengapa mahasiswa mempunyai idealisme seperti "intan". Kegiatan mahasiswa tentunya tidak hanya belajar, dan belajar. Kesadaran akan banyaknya pengetahuan, peluang, ancaman di sekitar menjadi terasah di jenjang ini. Saya tidak menilai buruk mereka (mahasiswa) yang hanya belajar ataupun menjalankan bisnis tetapi "gagal" terus. Justru disitulah intinya bahwa kita (mahasiswa) menyadari bahwa kita berada dalam proses pembelajaran (learning process) hidup, masa depan dan bisnis.

Siapa menyangka bahwa Theodore Roosevelt dulunya hanya anak yang lemah dan berpenyakitan dapat menjadi presiden Amerika Serikat. Dia mengatakan bahwa hidup adalah proses pembelajaran dan Anda harus mampu memulainya dari bawah untuk naik ke atas. Begitu juga dalam bisnis, Anda juga harus mampu memulai dari bawah agar mempunyai kemampuan untuk belajar dan membaca tentang strength (kekuatan), opportunity (peluang) serta threat (ancaman) dalam menjalankan bisnis Anda. Dan ini adalah proses, butuh waktu.

Dalam pengamatan saya, penyebab kegagalan bisnis di kalangan mahasiswa ada beberapa faktor. Lucunya, saya yakin, Anda pasti mengetahuinya tetapi dalam menjalankan bisnis terkadang kita lupa untuk memikirkan hal-hal tersebut.

Pertama adalah market (pasar). Kita harus mengetahui dengan jelas dan tepat pasar macam apa yang kita bidik. Untuk itu pengenalan karakteristik pasar mutlak diperlukan. Jangan sampai terjebak pada "pasar imaginer", pasar yang tidak memiliki konsumen akhir secara pasti dan jelas sehingga peredaran barang hanya seputar makelar ke makelar. Contohnya handphone , penjualan hanya berputar antar makelar (distributor). Bagi yang memiliki konsumen akhir, ia untung besar. Tetapi untuk yang tidak , keuntungan berupa komisi saja.

Kedua adalah BEP (Break Event Point). Merupakan keadaan keseimbangan dimana total cost sama dengan total revenue, atau kita kenal dengan istilah "balik modal". Banyak bisnis menjadi collaps, karena faktor ini. Kita harus dapat memperhitungkan berapa lama kita mendapatkan modal kita kembali dan dengan strategi apa kita mendapatkan. Ini bukan hal yang mudah, tetapi bagi Anda yang menekuni bisnis secara serius tentunya inilah tantangan Anda. Bila BEP telah tercapai, maka profit-lah yang Anda dapatkan secara maksimal.

Ketiga adalah Modal (capital). Modal itu sendiri terbagi atas dua bentuk, modal fisik dan skill (ability). Modal fisik berkaitan erat dengan operasional bisnis itu sendiri, dari hari ke hari (day to day operations). Skill yang dimiliki berkaitan erat dengan kemampuan (ability) untuk menjalankan bisnis tersebut, baik strategi, proses manajemen. Modal ini nantinya membentuk skala bisnis/usaha Anda. Modal ini menjadi esensial bila Anda melakukan bisnis dan mengukur resiko dalam memperoleh laba maksimum.

Bila ketiga faktor telah Anda penuhi, adalah penting bagi Anda untuk berpikiran jauh ke depan. Apakah usaha Anda dapat berkembang, mampu bertahan dan berpotensial menjadi sumber laba dan pendapatan atau Tidak ! Tantangan berat bagi seorang enterprenuership adalah menjadikan usahanya established dan berpotensial sebagai wara laba. Dalam artikelnya, Rheinald Kasali menuliskan bahwa bisnis yang berpotensial dan berkembang saat ini merupakan mata rantai bisnis yang dianggap tidak efektif dan efisien dulunya, tetapi sekarang mata rantai yang lepas itu bangkit menjadi bisnis yang efisien dan efektif. Jadi kenapa Anda tidak berpikiran untuk established ?

Faktor-faktor diatas merupakan hal mendasar yang hendaknya Anda pikirkan dalam memulai suatu bisnis. Market, BEP, Capital dan Skala, Masa depan menjadi titik tolak untuk membangun kemampuan Anda dalam berbisnis.

Tentunya kita mengetahui karakteristik usahawan ; suka mengambil resiko, pandai membaca peluang dan sebagainya. Karakteristik tersebut tidak akan dapatkan secara otomatis. Bagaimana kita bisa berbicara tentang mobil bila kita kita tidak pernah melihat, mengendarai dan mengerti kerja mesin mobil.

Untuk membangun usaha, dibutuhkan pemikiran skeptis. Artinya memikirkan, mempertimbangkan dan mewaspadai setiap keputusan, tindakan Anda benar atau tidak dengan berpikiran skeptis. Dengan "membaca" ancaman, kekurangan yang mungkin terjadi , Anda akan lebih berhati-hati dan melakukan langkah-langkah preventif.

Pikiran skeptis harus diimbangi dengan optimisasi usaha, artinya optimisasi tersebut memberikan motivasi bagi Anda untuk lebih "bersemangat". Optimisasi terhadap apa yang Anda miliki dan prospek ke depan menjadi "batu loncatan" Anda. Dan beranilah untuk berbuat "nekat". Nekat disini berani mengambil resiko dengan segala pertimbangan matang sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Rasa takut akan meliputi Anda pada awalnya, dan itu harus Anda lewati. Apa artinya bila Anda telah melakukan langkah seribu padahal langkah pertama (first step) belum Anda lakukan, itu sama saja membangun rumah tanpa fondasi. Bila dalam melakukan "the first step" Anda tidak takut, saran saya : Buatlah rasa takut dalam diri Anda ! Sebab hal itu akan menyelamatkan Anda.